Dosis Rasa Cukup Dan Rasa Nikmat

Gambar oleh Steve Buissinne dari Pixabay

Sebelumnya, izinkan aku menggunakan istilah dosis untuk hal lain di tulisan ini.

Dosis yang sering kita dengar adalah istilah takaran obat dalam dunia medis yang bertujuan untuk membantu terapi atau penyembuhan penyakit. Berapa banyak dosis yang diberikan oleh dokter tergantung dari tingkat keseriusan penyakit yang diderita atau usia pasien. Karena bila dosisnya kurang, penyakit akan lama disembuhkan. Tetapi jika over dosis juga bisa berakibat buruk bagi pasien. Bisa jadi obat itu justru dapat merusak bagian tubuh yang lain.

Demikian juga dalam hal rasa cukup atau kecukupan terhadap kebutuhan hidup. Rasanya setiap manusia punya dosis yang ditentukan. Berapa banyak kebutuhan makan setiap orang pastinya berbeda-beda. Kalau jumlah berapa kali makan rata-rata manusia sama dosisnya, 3 kali sehari. Tetapi varian makan setiap orang berbeda. Ambil contoh, seorang karyawan harian yang gajinya 100 ribu per hari, dia bisa merasa cukup dengan makan di warteg yang sekali makan perlu membayar kurang lebih 15.000. Atau kalau lagi tanggal tua bisa mencari makan di warung Padang yang mematok harga serba 10.000. Tetapi seorang bos atau pejabat setingkat direktur biasanya tempat makannya lebih berkelas. Tentu saja nominal yang dikeluarkan pun jauh lebih tinggi.

Dalam hal kebutuhan lainnya misalnya, transportasi. Seorang pegawai biasa mungkin cukup bermodal uang bensin untuk motor sebesar 50 ribu selama satu minggu, atau naik angkutan sehari 20 ribu. Tetapi seorang pegawai tinggi atau pemilik perusahaan tentunya perhitungan biaya transportasinya lebih kompleks lagi. Selain bensin yang jumlah liter dan kualitas oktannya lebih tinggi, juga biaya perawatan, service, pajak dan mungkin nomor plat yang cantik ikut menjadi variabel yang mengharuskan ia merogoh kocek sangat besar.

Belum lagi, sisi kehidupan yang lain. Kebutuhan pakaian, rumah, hiburan, berlibur dan banyak kebutuhan yang bukan pokok lainnya. Akan selalu begitu, semakin tinggi taraf hidup seseorang akan semakin banyak kebutuhannya.

Perbedaan kebutuhan setiap orang sesuai peran masing-masing, itulah yang aku sebut dosis kecukupan.

Tetapi mengapa banyak orang yang memiliki banyak hal tetapi masih merasa kurang? Nah, menurut pendapatku soal rasa itu menjadi persoalan lain. Persoalan rasa cukup itu bisa dipengaruhi oleh banyak hal, di antaranya gaya hidup, lingkungan, pandangan spiritual, atau faktor-faktor lainnya.

Padahal kita semua sama. Dikarunia komponen tubuh yang sama sejak dari lahir. Tetapi jika kita melihat di luar sana. Seorang tukang becak yang pendapatannya tidak menentu, bisa menjalani hidupnya dengan kecukupan~meski yang sering terjadi dicukup-cukupkan. Bahkan belum tentu mereka tidak bahagia hidupnya seperti yang banyak dari kita bayangkan. Begitu pun kuli-kuli bangunan, tukang menggali gorong-gorong, tukang sampah atau pembantu rumah tangga. Mereka semua hidup dengan keras, bergumul dengan kotoran atau sampah setiap hari. Tetapi banyak dari mereka yang merasa cukup. Bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, dan banyak yang merasa cukup dengan kehidupannya. Bahkan banyak dari mereka bisa menyekolahkan anak sampai sukses menjadi dokter atau sarjana yang berprestasi.

Sebaliknya, berapa banyak orang-orang hebat dan memiliki segalanya tapi hidupnya penuh drama kesedihan dan keputusasaan. Tanpa menyebut nama kita mungkin sering mendengar akhir hidup para artis papan atas dunia atau lokal, selebritis atau pejabat yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Atau berapa banyak yang kecanduan narkoba, korupsi dan berakhir di penjara? Semua itu bermula dari ketiadaan rasa cukup dan diperturutkan untuk memenuhinya dengan mengabaikan cara-cara yang baik dan benar.

Ternyata rasa cukup itu tidak melulu soal besar kecil apa yang kita dapat. Tetapi lebih kepada soal rasa. Untuk mendapatkan rasa cukup memang diperlukan kesadaran untuk mensyukuri apa yang ada.

Waktu pendapatan masih kecil, makan nasi telur ceplok di rumah kontrakan sudah cukup nikmat. Ketika gaji sudah naik, menu makan pun bisa berubah dan bertambah. Seiring rejeki bertambah, mimpi pun bertambah. Ingin punya rumah sendiri. Sudah punya rumah ingin punya kendaraan baru apakah motor atau mobil. Sudah punya rumah ingin punya lagi, atau beli tanah lagi untuk investasi. Begitu seterusnya, seiring pendapatan dan kesejahateraan yang bertambah, rasa cukup itu kadarnya atau dosisnya juga bertambah bisa selalu diperturutkan.

Tetapi lain soal rasa. Rasa nikmat orang-orang kelas bawah dan rasa nikmat orang-orang kelas atas tidak jauh berbeda. Misalnya ketika lapar. Rasa nikmat orang-orang kelas bawah cukup dengan sepiring nasi rames di warteg dan es teh manis. Sedang orang-orang kaya untuk mendapatkan kenikmatan yang sama tidak bisa dengan makanan yang sama. Mungkin harus makanan dengan menu yang spesial atau harus mendatangi restoran khusus yang menyediakan menu yang diinginkan. Dan tentu saja harga yang harus dibayar lebih tinggi.

Aku percaya, dunia ini diciptakan dengan keseimbangan dan keadilan. Hanya saja seringkali kita melihat rumput tetangga itu selalu lebih hijau dan lebat. Rasa cukup seseorang bisa berbeda-beda, tetapi rasa nikmat dan bahagia setiap orang itu sama. Nikmat dan bahagia tidak melulu monopoli sebagian kelompok sosial. Kita semua berpotensi untuk memiliki rasa nikmat dan bahagia dan merasakan cukup sesuai dosis kecukupan sesuai peran hidup yang kita mainkan. Karena meskipun peran kita berbeda-beda, tetapi itu semua sengaja diciptakan Tuhan, agar dunia berputar dengan keseimbangan dan penuh warna.

***

Ciracas, 18 Februari 2021

2 responses to “Dosis Rasa Cukup Dan Rasa Nikmat

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.