Cerpen| “Chef” Juna

photo ilustrasi: entertainment.kompas.com

Ada desiran darah yang menjalar naik di wajah Gadis, juga jantungnya yang berdegub lebih kencang setiap kali matanya mendapati sosok Arjuna. Sekuat tenaga ia berusaha menyembunyikan rasa itu. Tetapi selalu gagal.

Begitu juga di suatu sore saat rehat kuliah, ia seperti tak hendak beranjak dari tempat duduknya. Tempat duduk di pinggir lapangan basket di mana Arjuna sedang bermain bersama teman-teman klub basket di kampus itu.

“Arjuna,” gumam Gadis. “Tepat sekali ayahmu menyematkan nama itu,” lanjutnya masih dalam hati.

Mengeja kata “Arjuna”, Gadis jadi teringat seorang chef terkenal di televisi, Chef Juna. Posturnya mirip. Tinggi dan berat badan ideal. Pembawaannya dingin, dan tajam tatapan matanya setajam chef Juna. Sekilas nampak angkuh, tetapi auranya begitu teduh. Tetapi bagi Gadis, ia lebih tampan dari Chef Juna. Ih, ngomong apa sih kamu? Gadis menprotes dirinya sendiri.

Walau begitu Chef Juna yang satu ini enggan untuk pergi dari benaknya. Kadang ingin mengusirnya agar tak lagi mengganggu. Tetapi gangguan “Chef” Juna yang satu ini terasa istimewa. Bahkan Gadis merasa ingin selalu diganggunya. Ah, dasar chef. Kau teramat pintari meramu menu yang sulit dilupakan, umpatnya dengan ungkapan yang bermakna kebalikannya. Dan Gadis benar-benar tak berdaya mengusir sosok yang pertama kali mengisi relung hatinya itu, walau diam-diam.

“Heh, bengong mulu dari tadi. Hayoooo…,” tegur Sania, sahabatnya yang selalu menemani hari-hari menjalani aktifitas di kampus.

“Apa sih? Usil aja deh lu, San,” balas Gadis dengan tak sepenuhnya berhasil menutupi kegugupannya.

Suara gegap gempita penonton di lapangan menambah gelora di dada Gadis membuncah. Larut dalam euforia para suporter yang didominasi oleh para mahasiswi. Begitu hebatnya sorak-sorai mereka setiap kali Arjuna berhasil memasukkan bola ke keranjang lawan.

“Arjuna…. Arjuna…… Arjuna….!” tempik sorak para suporter kian bergemuruh.

“Aku tahu, pemandangan Arjuna sulit diabaikan oleh matamu,”  sambung Sania menggoda dengan setengah berteriak.

“Sssssssstt…. apaan sih? Jangan teriak begitu!” timpal Gadis sembari menyilangkan telunjuknya di tengah kedua bibirnya. Atau malu mendengar nama “chef”nya disinggung di depan mukanya? Seolah khawatir rahasia hatinya terungkap dan seluruh dunia tahu.

Arjuna adalah bintang. Bintang lapangan, bintang akademik, bintang selebritis di kampus. Seandainya semua mahasiswi diminta untuk memberi score pasti mereka tak ragu untuk membubuhkan nilai 100. Sempurna. Apalagi jika yang diminta adalah Gadis.

***

Malamnya, Gadis kembali berdiam di kamarnya seorang diri. Ia kembali menyadari dirinya yang bukan siapa-siapa. Dirinya yang pendiam, sedikit introvert dan  kutu buku. Ia dikenal pintar di kampusnya, tetapi bukan seleb meski tergolong parasnya ayu. Ia selalu nampak sederhana sehingga tak terlampau menonjol di antara teman-temannya.

Terhadap Arjuna, Gadis hanya mampu menghibur diri dengan letupan-letupan hati yang berusaha dipendamnya.  Entah mengapa hari-hari belakangan ini “chef” Juna itu merebut perhatiannya. Tak pernah sekali pun ia ungkapkan apa yang berkecamuk dalam pikirannya pada siapa pun. Termasuk pada Sania. Walau Sania sebenarnya juga mulai menyadari gelagat Gadis karena sebagai sahabatnya ia sering menangkap bagaimana warna tatapan mata Gadis pada Arjuna. Tatapan yang mampu tertahan dalam usahanya mencuri pandang tatkala pemandangan idola kampus itu muncul di tengah-tengah kehadiran mereka berdua.

Dan pemandangan itu memperoleh momen terindah saat suatu ketika Sania dijemput kakaknya sepulang kuliah.

“Dis, maaf ya aku nanti dijemput sama Andre,” info Sania agar Gadis bisa memilih alternatif pulang dengan angkot atau bersama teman yang lain.

“Gak apa-apa, San,” jawab Gadis santai.

Tapi ketika mereka berdua menunggu di depan kampus, tiba-tiba Arjuna menghampiri dengan motor besar buatan Jepang yang sedang ngetren saat itu.

“San, pulang naik apa?” sapanya.

“Aku dijemput kakak, Jun,” jawab Sania sembari melempar senyum. Senyum yang disertai sedikit lirikan yang ditujukan pada Gadis.


Gadis nampak canggung dan sedikit salting. Ia tak mampu bicara sepatah kata pun. Sosok di dekatnya tiba-tiba menjadi sesuatu yang “meneror” dirinya. Entah teror jenis apa karena bukan ketakutan yang hadir, tetapi aneka rupa perasaan yang sulit dilukiskan.

“Oh, begitu. Gadis pulang sama siapa?”

Deg! Entah mengapa, pertanyaan Arjuna seperti godam yang menghentak di dadanya..

“Aku pulang naik angkot, seperti biasa,” jawab Gadis buru-buru. Ingin ia menetralisir kegugupannya saat pertanyaan itu terdengar seperti isyarat penawaran.Tetapi Gadis tak mau mengiyakan begitu saja karena ia merasa perlu menjaga images sebagai wanita yang tak mudah nemplok pada lelaki begitu saja. Meski pada “chef” Juna sekali pun.

“Memang pulangnya ke mana, Dis?” sambung Arjuna.

“Ke Cilandak.”

“Oh, kebetulan searah. Aku ke Pasar Minggu. Kalau kamu mau,sekalian bareng.”

“Ah, gak usah, Jun.” tolak Gadis.

“Sudah, Dis. Ikut aja bareng Arjuna,” bujuk Sania, sembari mengerlingkan sedikit matanya.

Tiba-tiba segumpal keraguan menyumbat tekadnya untuk menghindar. Gadis menghadapi sebuah pilihan dilematis. Ia tak ingin dianggap cewek gampangan, tetapi di sisi hatinya yang lain ia merasa sayang melepas kesempatan indah yang tak setiap saat menghampirinya.

Duh, bagaimana ya?  Sejenak Gadis berpikir.

“Jangan ragu-ragu, Dis. Sayang lho, boncengan motor Arjuna udah banyak yang ngantri kalau kamu gak mau,” timpal Sania lagi, mengompori.

Gadis pun tak berdaya. Pilihannya jatuh pada pilihan ke-2, pulang bareng Arjuna. Dengan malu-malu, Gadis memindahkan bokongnya di jok sepeda botor Arjuna.

Hmm, semalam mimpi apa aku? Batin Gadis mengingat-ingat apa yang terjadi dalam tidurnya semalam.


***

Sejak itu, setiap ada kesempatan pulang di jam yang sama, Arjuna sering menghampiri Gadis. Suatu kebiasaan baru bagi Arjuna. Kebiasaan yang mengundang gosip di antara kawan-kawan keduanya.

“Kamu dah jadian sama Arjuna ya,Dis?”

“Ah, gak kok. Temenan biasa.”

“Teman tapi mesra, ya. Jangan bohong deh, Dis. Kalian itu udah bukan anak-anak lagi. Gak apa-apa lagi, kalau memang jadian. Aku juga paham gelagat Arjuna. Dia menyukaimu.”

“Aku tak mau berpikir terlalu jauh, San. Banyak cewek yang menyukainya, bahkan mengidolakannya. Aku gak mau patah hati kalau berharap terlalu banyak. Aku menganggap teman baik saja yang kebetulan tempat tinggalnya searah. Karena alasan itu saja kami tampak sering berdua. Tak lebih.”

“Oh, ya? Benarkah?“ ledek Sania menanggapi pernyataan Gadis yang bersikap biasa saja.

“Sungguh. Ya sudah kalau gak percaya.”

“Ngomong-ngomong, sekilas wajah Arjuna mirip kamu. Kata orang-orang tua itu pertanda jodoh, lho.Hihihi… ”

Wajah Gadis agak memerah dibuatnya. Kalau sudah begitu, ia buru-buru mengalihkan pembicaraan setiap disinggung nama Arjuna.

“San, udah ya. Aku mau ke perpustakaan.”

“Dasar, kutu buku. Jangan lupa, Arjuna menunggumu.”

“Apa, sih!” jawab Gadis sambil mencubit lengah Sania dan berlalu.

***


Benarkah aku sedang jatuh cinta? Ah, tidak. Arjuna tidak mungkin mencintaiku, gadis yang bukan siapa-siapa. Yang rumahnya di gang sempit. Dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan pula.

Tetapi mengapa Arjuna akhir-akhir ini rajin menyambangiku? Mengapa dia tak berterus-terang mengatakan isi hatinya jika memang menyukaiku? Aku wanita, tak mungkin mengungkapkan satu hal tentang hati lebih dulu. Tak mungkin. Betapapun besarnya keinginan itu.

Bila aku menatap matanya, aku seperti melihat bintang yang berpendar. Dan bintang itu memancarkan cahaya yang menembus dinding hatiku. Aku sulit menghindarinya, bahkan ingin cahaya itu selalu hadir. Tapi aku tak bisa meminta. Tak bisa.

***

Di saat harapan tumbuh di hati Gadis, di saat bunga-bunga bersemi walau dipendam begitu dalam. Di saat seperti itu justru Arjuna menghilang beberapa hari dari pandangan Gadis.

Tak terdengar lagi deru motor yang mulai diakrabinya. Yang nadanya sudah dihafal walau keberadaannya masih jauh sebelum tepat berhenti di depannya. Suara motor lelaki keren yang ditunggu-tunggu kalimat pertamanya yang paling indah. Tetapi kali ini menjadi penantian yang panjang. Sebab batang hidung lelaki itu seperti hilang ditelan bumi.

Hingga di waktu yang tak diduga, Gadis mendapatkan pesan via telegram. “Kita pulang bareng sore ini ya, Dis. Ada yang ingin aku katakan padamu,” begitu pesan telegram dari Arjuna.

“Oh, Tuhan. Apakah ini jawaban dari mimpiku?” gumam Gadis. Angannya kembali membumbung, membayangkan bagaimana ia harus berekspresi ketika Arjuna mengatakan sesuatu yang tak pernah dibayangkannya selama ini. “Apakah aku akan pingsan?” Oh, tidak. Aku perempuan tegar, bukan melow.

Dan sore itu, langit di atas kampus nampak biru. Bersih, hanya sedikit awan putih yang menghiasi. Kedua insan akhirnya bertemu. Di tempat yang sama. Di depan kampus sebagaimana biasa ia bertemu dan pulang bersama.

Sepanjang jalan keduanya diam. Tak sebagaimana biasa. Hingga saat berhenti di depan gang menuju rumah Gadis, Arjuna baru mulai membuka percakapan.

“Gadis, terima kasih kamu menemaniku pulang selama ini.”

“Hmmm… ?!” gadis diliputi tanda tanya. Perasaannya campur aduk. Antara rasa bahagia, cemas, khawatir bercampur aduk seperti kopi dalgona yang ditemukan kala penantian berakhirnya pandemic corona tak kunjung tiba,

“Aku tahu kamu menyukaiku, benarkah?”

Ya, ampun! Pertanyaan apa ini? Gadis merasa Arjuna seperti penyidik bareskrim yang menyelidikinya sebagai tersangka. Gadis tak mampu menjawabnya pertanyaan itu dengan baik.

“Menurutmu?”

“Aku yakin kamu menyukaiku,”

Oh, Tuhan, teganya Arjuna mengatakan hal itu, batin Gadis.

“Kalau kamu?” Gadis balik bertanya.

“Aku tidak menyukaimu.” Oh, Tuhan, teganya Arjuna mengatakan hal itu, batin Gadis. “Dan ini adalah terakhir kalinya kita bertemu. Juga terakhir kalinya kita pulang bersama,” sambung Arjuna.

Bagai disambar petir di siang bolong, kalimat-kalimat lugas itu tak pernah terbersit sedikitpun di benak Gadis. Belum juga ikatan itu disatukan, kok bisa-bisanya Arjuna memutuskannya.

Gadis tak kuasa menahan cairan bening membasahi kelopak matanya. Lidahnya tiba-tiba kelu. Ia kembali melihat sebongkah keangkuhan chef Juna yang terwakili pada sikap Arjuna saat mengatakan kalimat perpisahan yang menyakitkan itu. Perpisahan untuk sesuatu yang tak pernah diikrarkan, namun berhasil meruntuhkan bangunan piramid yang diam-diam dibiarkan berdiri tegak dan menjulang di hati Gadis.

“Aku akan pergi, Gadis,” sambung Arjuna.

“Mengapa kamu mengatakan hal itu? Memangnya kamu mau pergi ke mana?”

“Ke sebuah tempat agar kamu bisa melupakan aku. Tetapi aku tidak membencimu. Aku tetap menyayangimu. Kamu boleh menyukai lelaki mana pun asal bukan aku.”

“Kenapa?” kejar Gadis tak mengerti. Wajahnya menunduk, tak lagi ingin menatap Arjuna berlama-lama. Ia tak ingin puing-puing harapan yang telah runtuh itu semakin menghancurkan hatinya.

“Saatnya nanti kamu akan tahu. Sudah ya, Dis. Good bye!” Arjuna meninggalkan Gadis sendiri di tepi jalan. Deru motornya perlahan lenyap seiring bayangannya yang menghilang di batas pandang mata Gadis yang kini didera rasa pedih yang seumur hidup baru pertama kali dialaminya.

Dengan langkah gontai Gadis memasuki gang sempit menuju rumahnya. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang setelah membuka pintu kamar.

***

Tiga bulan telah berlalu sejak perpisahan Gadis dan Arjuna. Tak ada kabar berita. Di kampus Arjuna tak pernah muncul. Barangkali ia sedang cuti kuliah, atau pulang ke kampung halamannya? Tak ada info yang pasti. Tetapi Gadis sudah tak mau tahu dan tak ingin tahu kabar berita tentang Arjuna. Gadis ingin mengubur bayangan itu. Bayangan sosok yang sempat ia sematkan mahkota “chef” di hatinya. Bahkan sejak itu Gadis tak pernah mau diajak pergi ke café dan meminum kopi yang membangkitkan kenangannya.

Tetapi, di suatu malam yang tak diinginkan, sebuah pesan telegram masuk di smartphonenya. Gadis terperanjat. “Arjuna!” bisik hatinya. Apa yang mau dikatakanya lagi? Apa masih belum puas menyakiti hati ini? Sambungnya dalam hati. Walau rasa sakit itu masih belum sirna, dengan berat hati Gadis membuka pesan itu.

Dear Gadis yang baik hati.

Besok aku ingin bersilaturahmi dengan ayah ke rumahmu. Sejak aku ceritakan dirimu pada ayah, dia mengatakan hal yang tak pernah kubayangkan terjadi dalam hidupku. Dalam hidup kami.

Ternyata kita memiliki ayah yang sama. Delapan belas tahun yang lalu ayah berpisah dengan ibumu yang menjadi istri ke-2 ayahku. Kita pernah hidup bersama saat kamu masih bayi dan aku baru berumur 2 tahun. Lalu ayah dan ibumu berpisah. Kamu bersama ibumu dan aku bersama ayah pulang ke Semarang.

Sejak aku ceritakan tentang namamu, Gadis yang tinggal di bilangan Cilandak, Jakarta Selatan, ayah langsung tahu dan cepat mengingat akan seseorang. Dan ternyata kamu adalah adikku.

Aku sekarang sudah kembali ke Jakarta, bersama ayah.

Maafkan, aku baru sempat menceritakan hal ini padamu.

Salam sayang,
Kakakmu
Arjuna.

Betapa kagetnya Gadis. Bola matanya kembali mencair. Kali ini lebih deras, hingga selembar sapu tangan tak cukup untuk mengeringkannya.

Oh, Tuhan. Ternyata kau pertemukan kami dengan cara yang tidak sederhana.

***

6 responses to “Cerpen| “Chef” Juna

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.