Menenun Kata

pic: news.unair.ac.id

Seorang lelaki duduk di kursi teras depan rumahnya sembari menggerakkan kedua jempolnya secara sinergi. Menekan-nekan, mengetuk-ngetuk sebuah benda berbentuk persegi yang memancarkan sinar di salah satu permukaannya.

Apa yang dilakukannya pada malam yang dingin di tengah rintik hujan bulan Juli. Mengapa ia tidak tidur saja sama seperti orang-orang yang sudah lebih dulu nyenyak di ranjang empuknya. Sebegitu pentingkah yang dilakukannya, sampai tak peduli malam melarut menyibak hari menuju pagi. Atau mungkin ia tak peduli penting atau tidak apa yang dilakukannya atau ia tak membutuhkan alasan untuk melakukan apa saja. Apakah ia sedang menorehkan sesuatu tentang apa yang dirasakan hari itu. Mencatat jurnal kebahagiaan di hari itu misalnya, atau menyusun huruf merangkai kata apa saja asalkan jari jemarinya lemas dan tidak kaku setelah lama tak pernah dimainkan. Atau ia sedang bercengkerama bersama teman di dunia lain setelah dipinjami alat canggih oleh Doraemon.

Bisa juga ia melakukan itu karena ia bebas melakukannya di tengah malam tanpa gangguan. Bisa jadi karena waktu terbaiknya hanyalah malam yang sunyi.

Seharusnya kalau ia sudah beristri akan ada yang menegurnya untuk segera tidur atau berbagi kenikmatan. Kalau ia jomblo dan belum menikah lain soal. Karena jomblo terbiasa hidup tanpa rencana. Apalagi jika kebetulan besuknya bekerja dari rumah karena aturan perusahaan sebagai protokol kesehatan di tengah pandemi. Lebih pas lagi kalau ia seorang pengangguran. Hidup bebas dan senang walau tak punya uang. Kalau begitu kira-kira apa yang sedang berkecamuk di pikiran dan hatinya. Khawatirkah tentang masa depan sehingga rasa kantuk tak mampu merayunya agar lekas meraih bantal. Barangkali ia memiliki obsesi yang belum terwujud dan sedang dikejar.

Ada banyak hal yang bisa dipertanyakan kepada seorang lelaki di tengah malam yang tengah mengetuk-ngetuk sebuah benda persegi dengan kedua jempolnya. Tetapi nampaknya semua itu akan menjadi cerita yang terasa sunyi apalagi bila dituntut dengan ekspektasi sedemikian tinggi. Karena yang dibutuhkannya hanyalah lepas dari belenggu ide yang tak kunjung muncul di tulisannya.

Depok, 6 Juli 2020 00:25 AM

9 responses to “Menenun Kata

  1. Lain waktu, lain cerita ya.

    Di sini, di penghujung malam, seorang perempuan tengah mengetuk-ngetuk bolpoinnya di atas selembar kertas kosong.

    Memang, akan selalu ada banyak pertanyaan selama hayat masih dikandung badan. Nice post Ka!

    Liked by 1 person

  2. Pingback: Pulang Membawa Buah Tangan – Ikatan Kata·

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.