Balada Senja

ilustrasi: hipwee.com

Senja itu matahari tenggelam di balik awan hitam. Awan berarak menumpahkan air langit, berlomba membasahi bumi.

Seorang istri berdiri di ambang pintu.  Setiba di rumah sang suami melepas sepatu pantofel lalu meletakkannya di rak yañg berdiri di pojok teras. Usai mencopot mantel abu-abu yang basah dan menggantungnya dengan dua gantungan baju yang disodorkan istrinya ia bergegas masuk ke dalam rumah. Sebelum melewati ambang pintu ia menjulurkan tangannya. Sang istri mencium punggung telapak tangannya yang sudah mulai menampakkan kerutan tipis. Tidak sehalus lagi seperti di masa 20 tahun silam saat mereka pertama kali bertemu.

“Hujan deras hari ini, masihkah kau akan pergi juga?”, raut wajah wanita itu cemas.

“Iya.” , sang suami menjawab datar.

Di luar langit semakin gelap, tertutup mendung yang pekat. Tetesan air hujan masih mengucur dari pucuk-pucuk daun jambu dan sisi-sisi kanopi yang menutupi teras rumah mereka. Membentuk genangan kecil dan berebut menuju selokan.

“Kapan kau istirahat sehari saja? Hari libur pun tak kausisakan.”

“Sudahlah, aku hanya berusaha agar semua baik-baik saja.”, sang suami menghela nafas. Diseruputnya kopi pahit yang sudah tersaji di beranda rumahnya.

“Kemarin kang Solihin mencarimu.”

“Oh, ya?”, jawaban suaminya lagi-lagi singkat. Sedikit antusias, tapi tetap saja datar. Sang istri menatapnya, tetapi lelaki itu lebih sibuk menyiapkan baju ganti untuk pekerjaan berikutnya.

“Sudah lama ia tak menjumpaimu di majelis taklim.”

“Katakan saja, aku sedang ada tugas di luar.”

“Sampai kapan kau terus begini? Apa yang kau kejar tak sebanding dengan apa yang telah hilang.”

“Kalau aku tidak pergi aku akan kehilangan kesempatan. Sesuatu yang lebih dibutuhkan dari sekedar duduk-duduk mendengar nasehat.”

“Kalau kamu sakit, kita akan kehilangan lebih besar.”

“Entahlah. Aku tak mau berpikir sejauh itu.”

Sang suami kembali duduk sambil merapikan jaket yang melapisi kaus berkerah yang dikenakannya. Matanya sempat menatap kitab tebal yang mulai berdebu di rak buku.

Sang istri sibuk mengurus tumpukan baju yang belum mengering. Musim hujan memberinya pekerjaan tambahan. Mengeringkan baju untuk dipakai sekolah si bungsu dan ke kantor suaminya esok hari.

“Berangkatlah jika itu maumu. Senja sudah berangsur malam. Paling tidak sayangilah dirimu. Kita tak akan selamanya menunggui anak-anak.” Sang istri nyaris kehabisan kata-kata untuk suaminya.

Lalu sang suami pun berdiri. Melangkah menuju garasi. Tetiba si bungsu berteriak menghampirinya.

“Ayah…. sudah lama kita tidak pergi bersama.”

Lelaki itu tercekat. Ia diam sejenak, seolah menghitung berapa masa emas yang telah hilang. Perlahan cairan bening mengalir di pipinya.

***

12 responses to “Balada Senja

  1. Sedih ah Mas baca ceritanya…
    Mengejar kebutuhan hidup, hingga melalaikan waktu bersama keluarga…romantika kehidupan masa kini Mas.
    Apapun semoga kita lebih pandai lagi menata waktu…

    Salam dari saya di Sukabumi,

    Like

  2. Kenapa ya, kita suka takut kehilangan kesempatan? hemm… Memang sih kesempatan belum tentu datang dua kali, tapi ingat juga kalau “waktu” sudah pasti gak akan berputar dua kali. 😀

    Liked by 1 person

  3. Pingback: Mind Traveller – Ikatan Kata·

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.