Petrikor

petrichor

pic: sciencenewsforstudents.org

Tuhan,
malam ini kudengar suara asing
seperti angin yang bertiup

ditimpali musik semesta

dalam keraguan kubuka jendela

ahai…. ternyata 
aku melihat “air mata” langit
kali pertama basahi tanah ini
ya, remang-remang air hujan
deras mengguyur
hapuskan kemarau yang tlah lama
“menyiksa” penantian 

Tuhan,
hujan terlampau biasa untuk ditulis puisi
tetapi aku tak akan pernah bosan menuliskannya
walau tak seindah hujan bulan Juni
tetap saja aku dengar orkestra alam
dilatari halilintar
mengalun indah jadi kidung kerinduan 

aku bergegas keluar 
meluapkan rasa
memeluk rindu
menciumi petrikor

*

Ciracas, 10 Agustus 2019

 

 

 

6 responses to “Petrikor

    • hi, mbak Sondang.

      Berarti di tempat mbak sudah musim hujan ya? Di tempatku ( Jakarta dan Depok ) baru sekali hujan lebat. Dan kemarin sempat menikmati petrikor di waktu malam. Tapi ternyata hanya sekali saja hujan turun, sampai saat ini kemarau masih lanjut.

      Kalau angin kencang dan petir sih, justru yang membuat hujan itu menarik. Asal tidak berlebihan sampai membuat bencana.

      makasih komennya ya, mbak
      manggilnya apa baiknya, mbak, bu atau Ito ?

      😀

      Salam

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.