Ahay, Ratingku Naik

ilustrasi: pixabay.com

Hari ini aku kaget sekaligus gembira melihat indikator penilaian customer ( CS ) lewat aplikasi Grab Driver. Tak disangka, setelah turun jauh dari posisi awal 49X ke titik terendah 482. Lalu naik sedikit 483 dan hari ini naik cukup tajam ke 488. Aku coba ingat-ingat lagi kisah perjalananku mengais rejeki di jalanan kemarin. Yaitu perjalananku di hari Minggu, 3 Maret 2019. Aku menebak-nebak apa yang membuat ratingku bisa naik drastis 5 angka. Padahal biasanya lebih banyak turun.

Customer pertamaku muncul di aplikasi jam 6.30 pagi. Twing, twing, twing, Order prioritas berbunyi dari hp Samsungku. Aku menyapa CS via chat di aplikasi dan menanyakan posisi tepatnya. Soalnya alamat tujuan yang tertera di order kurang jelas dan tidak ada nomornya. Tak berapa lama customer meneleponku. Dijelaskannya rute penjemputan. Aku cepat memahami penjelasannya karena sering melewati daerah tersebut. Aku pun meluncur. Menjemput customer pertamaku dengan penuh semangat.

Di titik jemput aku medapati satu keluarga: bapak, ibu dan anak perjakanya mengenakan batik rapi. Setalah buka pintu, salam, sapa dan senyum khas pelayanan driver online, kami pun berangkat menuju tujuan. Lewat obrolan aku tahu, mereka hendak pergi ke acara pernikahan.

Selama perjalanan, kami terlibat obrolan cukup akrab. Tak ketinggalan tema-tema umum seputar aslinya mana, kerja full atau sambilan, mobil milik sendiri atau bukan, juga obrolan tentang masa pensiun, dan sebagainya. Apalagi ketemu bapak-bapak yang sudah purna bakti alias pensiun. Dunia pensiunan seperti itu menjadi tema obrolan hiburan dan disenangi oleh mereka. Saya pun dengan senang hati menanggapi obrolannya.

Si anak perjakanya pun tak segan menimpali obrolan saat aku menjawab pertanyaan bapaknya, selain driver online kerja di mana? Aku bilang kerja di PT. X. “Oh, bapak di PT. X? Yang di daerah Y? ” Tanyanya memastikan. Aku mengiyakan, dan dia menyambung. “Teman saya banyak yang kerja di sana pak. Namanya A, B, C. ” Dan kebetulan yang disebutkan itu aku mengenalnya. Pembicaraanpun bertambah ramai dan melebar seputar pertemanan.

Hampir sepanjang perjalanan kami mengobrol. Seolah sudah pernah kenal sebelumnya.

Sesampai di tujuan mereka minta diturunkan di pinggir jalan saja. Dia beralasan  jalan masuk ke tempat pernikahan sempit dan becek. Aku ingatkan jika ada barang yang tertinggal. Setelah yakin dan menyelesaikan pembayaran kami pun berpisah. Kami saling berucap terima kasih. Lebih senangnya lagi aku dibayar dengan tips yang lumayan. “Sudah pak, kembaliannya biar saja.”

Itulah sepenggal ceritaku.  Bekerja dan melayani sebaik mungkin. Kalau toh ada apresiasi berupa tips alhamdulillah. Tidak ada pun tetap alhamdulillah. Salam, sapa dan senyum tetap kulakukan. Bahkan kepada customer yang kurang apresiatif pun, aku mencoba tidak berubah. Barangkali itu yang membuat bekerja terasa lebih ringan dan hati tetap lapang. Dan barangkali juga hal-hal seperti itu yang menaikkan rating penilaian customer.  Lalu trip demi trip aku berusaha mempertahankan pelayanan yang sama dengan customer berikutnya. Meski tak semua sama karakternya.

Depok, 20190304

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.