Merasa Punya Ayah

ilustrasi: docpri

Bahagia itu sederhana. Kali ini aku setuju dengan quote yang sering kutemui di status media sosial.

Semalam si bungsu girang sekali. Dia menenteng sebuah bungkusan plastik berisi lego yang dipilihnya di supermarket dekat rumah saat berbelanja dengan mamanya.  Ia memilih sendiri mainan kesukaannya itu,  dan sasampainya di rumah tak sabar minta dibukakan dan dibantu merakitnya.

“Ayo, Yah. Cepet buka legonya. ” Dia meraih tanganku, dan mengajak masuk ke dalam rumah.

“Kalau ada ayah, pasti jadi deh mainannya. ” Kata si bungsu kegirangan karena malam ini ia bisa bersama ayahnya menyusun lego. Dia memang  suka sekali mainan-mainan yang cara bermainnya dengan merakit dan menyusun bagian-bagian menjadi sebuah obyek. Makanya ia juga senang bermain puzzle. Dia cukup mahir menyusun bermacam-macam puzzle. Pernah di tempat guru ngajinya ia berhasil menyelesaikan puzzle yang baru dan cukup rumit untuk anak seusianya hanya dalam tempo singkat.

Tapi saat bermain  lego, ia masih perlu bantuan karena kadang detilnya ada yang cukup rumit. Meski begitu, dia bisa kritis kalau ternyata ayahnya salah memasang dan dilihatnya tidak sesuai gambar.

“Bukan begitu, Ayah. Lihat nih dipasangnya di tengah, bukan di pinggir.” Iya juga ya, batinku.

“Eh, iya bener. Pinter Faiz. Ayah salah kali ini.” kataku sembari memujinya.

Tak berapa lama sebuah pesawat helikopter berhasil kami rakit bersama dari kepingan-kepingan lego. Si bungsu senang sekali. Sebuah kerja sama yang menyenangkan. Si bungsu betambah girang dan dimainkannya helikopter itu sambil menirukan suara heli dan menerbangkannya dengan tetap terpegang di tangan.

Aku bahagia memandang keceriaannya. Bahagia menjadi ayah yang bisa meluangkan waktu bermain dan menemani masa kanak-kanaknya. Barangkali ini hanyalah sebuah momen kecil dan sederhana, namun ternyata tidak semua orang punya kesempatan seperti ini. Kesibukan kerja dan tuntutan-tuntuan hidup kadang mengalahkan keluarga. Padahal keluarga adalah bagian terpenting yang mempengaruhi kebahagiaan seseorang.

Menunggu kereta Cepu – Jakarta

Sudah sering kita baca kisah-kisah pilu di balik kesuksesan hidup seseorang. Namun di balik pencapaian yang telah didapatkan baik materi dan melambungnya popularitas ternyata ada harga yang harus ditukar, yaitu kehilangan waktu untuk keluarga. Betapa banyak anak-anak yang menjadi korban karena kehilangan hubungan kasih sayang, ada yang terjerumus ke dalam narkoba, kenakalan remaja atau bahkan ada yang sampai bunuh diri.

Hidup memang pelik. Suatu saat bisa dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Pekerjaan tentu sangat penting, tapi keluarga jauh lebih penting. Pekerjaan hilang bisa dicari lagi, tapi tidak dengan keluarga.

Sungguh, ternyata bahagia itu ada kalanya sederhana. Ketika kita mencurahkan kasih sayang, menyempatkan bercengkerama dan menyisihkan sebagian waktu hidup kita untuk keluarga. Seringkali tidak mudah, tapi semua pasti setuju kebahagiaan keluarga adalah kebahagiaan kita juga. Kegagalan keluarga menjauhkan kita dari kebahagiaan.

Kebahagiaan kadang sederhana. Bahkan ketika melihat si kecil merasa punya ayah.

Depok, 3 Agustus 2017

Advertisements

6 responses to “Merasa Punya Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s