Perempuan Dalam Taksi

ilustrasi: makassar.tribunnews.com

“Posisi di mana, Pak?”

“Jalan Raya Bogor, sebentar lagi sampai.”

“Cepat ya, Pak. Tidak usah masuk Cafe, saya di pinggir jalan.”

“Baik, Bu”

5 menit berlalu, taksiku sudah berada persis di pinggir jalan depan Cafe OTW, Jalan Margonda. Seorang perempuan  separuh baya berdiri sendirian di tepi jalan lalu mengamati taksi yang kukemudikan. Ia nampak fokus dan yakin order yang ditunggunya sudah tiba, lalu spontan ia melambaikan tangan dan memberi isyarat untuk mendekat.

Perlahan mobil dan perempuan itu saling mendekat. Kubuka kaca jendela depan.

“Dengan ibu Wini?”

“Betul.”

Seperti terburu-buru ia membuka pintu belakang.

“Selamat malam, Bu.”  sambutku berusaha ramah kepada setiap penumpang. Ia pun membalas dengan salam yang sama, namun nada suaranya sedikit tertahan.

Ia pun duduk dan langsung menyandarkan punggungnya seolah terhempas dari udara. Dikendorkannya setelan tempat duduk agar lebih miring dan santai.

“Hmmmhhh… ” ia menghela nafas dan mengeluarkannya perlahan seperti hendak melepas penat.

Jam 10 menjelang larut malam, aku off kan tombol penerimaan order di sisi kanan bawah aplikasi driver taksi.  Kupastikan ini penumpang terakhirku karena  aku harus pulang sebelum jam 12 malam. Lagi pula  besuk pagi pekerjaan lain sudah menanti.

Baru satu kilometer perjalanan,  sayup-sayup terdengar suara terisak. Kutengok dashboard, radio mati. Aku bingung mencari-cari sumber suara itu. Kulirik kaca spion dalam di atas kepalaku.  Dalam cahaya remang aku masih bisa melihat perempuan itu menutup sebagian mukanya dengan sapu tangan biru. Tapi masih terlihat  di bagian yang lain memerah dan lembab. Matanya pun sembab, dan perlahan buliran air bening mengalir di pipinya.

“Bu..” setengah ragu aku mencoba menyapa. Suaraku tercekat. Ia pun tak menyahut, seperti tak mendengar sapaan orang di dekatnya. Setelah itu ia terisak kembali, sesekali tangisnya pecah.

Dalam posisi serba salah aku lebih banyak diam. Tugasku hanyalah menjemput dan mengantar pelanggan ke tujuan. Menyangkut urusan pribadi rasanya tak pantas aku mencampuri. Tapi. melihatnya menangis tak mudah  membiarkannya larut dalam kekalutan dan kepedihan.

Ia membuka tas Gucci warna  coklat keemasan yang ditenteng di lengannya. Selembar tisu terangkat, lalu diusapkan ke pipinya yang basah.

“Maaf, ya Pak. Aku tak bisa menahan diri.” Tiba-tiba suaranya memecah kebisuan dan pekatnya malam.

“Oh, gak papa  Bu. ” jawabku singkat meskipun ingin melanjutkan pertanyaan lebih jauh lagi.

Dada ini bergemuruh pertayaan, ada apa? Apa yang terjadi? Mengapa sampai pulang larut seorang diri? Kenapa tidak telpon suami ? Tapi lidah ini kelu dan merasa tak pantas mengutarakannya.

“Ibu sakit?” Ah pertanyaan apa pula ini. Aku benar-benar bingung mau mulai dari mana atau harus tetap diam saja menyaksikan perempuan yang tak kukenal sesenggukan di dekatku?

Perempuan itu menggeleng. Tapi tetap saja ia pelit berkata-kata. Biasanya kalau penumpang doyan ngobrol aku pun bisa mengimbangi obrolannya. Tapi kalau mendapat penumpang yang tertutup aku juga mesti berhati-hati. Salah-salah bisa dicap kepo atau songong.

Sekali waktu cahaya lampu jalan merasuk ke dalam mobil. Sekilas menerpa wajah perempuan itu. Sekelebat aku sempat melihatnya dari kaca spion. Rambutnya sebahu dan model wajahya eksotis tapi bersih seperti wajah-wajah umum orang Indonesia. Wajah yang sering kulihat pula di masa lalu. Ia sempat pula memperhatikan aku, entahlah apa yang dipikirkannya. Tapi buru-buru ia mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Di layar smartphone, informasi menunjukkan bahwa 3 menit lagi perjalanan akan sampai di tempat tujuan. Waktu sudah menginjak pukul 23.30 WIB.  Sudah saatnya perempuan itu istirahat dan melepas seluruh kekalutannya di rumah sendiri, tanpa harus mempermainkan perasaan orang lain. Dan aku juga akan segera pulang ke rumah, melepas lelah dan seribu tanya yang ingin aku lupakan tentang perempuan itu.

“Pak… ” Lagi-lagi ia menyapaku, dengan tekanan kata yang sengaja ia tahan. Seolah menunggu responku sebelum melanjutkan kalimatnya.

“Tolong putar balik saja. Saya tak ingin cepat pulang.”  Aku dibuat tercengang mendengar kalimat susulannya. Apa? Sudah hampir jam 12 malam.

“Kenapa, Bu? Ibu mau ke mana? “

“Saya mohon, Pak.  Antar saya menghabiskan waktu malam ini, mengelilingi kota Depok.”

“Tapi… “

“Tolong, Pak. Jangan khawatir, nanti dihitung saja biayanya.”

“Bu, mohon maaf. Ini bukan soal biaya. Tapi malam sudah larut. Tidak baik menghabiskan malam di luar sana. Kurasa Ibu lebih baik beristirahat di rumah, karena bagaimana pun tubuh kita perlu istirahat. “

“Jangan ajari saya soal itu, Pak. Maaf. Justru di rumah pikiran saya tak bisa istirahat.”

“Maafkan saya. Saya tak bisa mengantar Ibu. Saya harus pulang, karena besuk pagi masih ada pekerjaan.”

Perempuan itu terdiam. Ia menyerah, dan…

“Ya sudahlah. Antar ke Blok B-2 No 14.”

Rasanya lega nafasku, seperti terlepas dari sandera, atau tali yang menyesakkan dada. Aku bisa pulang dan kelelahan ini harus mendapatkan obatnya.

*

Di hari berikutnya, saat aku berbenah arsip dan dokumen. Aku menemukan sebuah surat yang terselip di antara lembaran file. Surat beramplop airmail yang tersimpan lama. Mungkin sudah puluhan tahun amplop itu tak tersentuh. Dan saat pandanganku tertuju pada nama pengirimnya, aku tersentak tak percaya. Tiba-tiba saja aku merasa bersalah.

Jakarta, 29 Juli 2017

Advertisements

14 responses to “Perempuan Dalam Taksi

    • Ya, tepat sekali bu Nur. Ceritanya sih, pengin buat ending yang gak terduga. Gak tahu kira2 saat sebelum Ibu sampai pada paragraf terakhir apakah sudah menduga endingnya akan seperti itu ya? Hehe,, masih belajar bikin cerpen ini, Bu. 🙂

      Liked by 1 person

      • Sebelum sampai paragraf terakhir sih sy msh bertanya2 gmn endingnya, sama sekali gak menduga kalau ibu itu mantan masHp he he
        belajar bikin cerpen dr pengalaman pribadi ya mas?

        Liked by 1 person

    • hihihi… kalau pengalaman ketemu bermacam2 karakter penumpang iya Bu. Tapi soal perempuan dan mantan, itu hanya imajinasi saya saja, bukan pengalaman.. jadi campuran antara pengalaman sehari2 dengan bumbu cerita imajiner..

      saya juga minta istri membacanya, biar gak salah paham. Salah2 bisa disangka kisah nyata. hehe

      terima kasih sudah membaca ya Bu.. 🙂

      Liked by 1 person

      • Oh begitu ya mas?
        Bagus sekali itu mas, terbuka dengan istri, sehingga tdk menimbulkan kecemburuan he he
        Ok salam untuk istri dan anak2 (he he mf sok dekat)

        #
        Baik, Bu Nur. InsyaAllah disampaikan salamnya.

        Like

    • Hihihi… kasihan. Maaf ya jd tersesaat.. yg penting gak jd sesat.

      Itu hanya tokoh imajiner kok, Suci.
      My wife jg baca dan dia tahu hanya cerita fiktif. Meskipun seting lokasi ada. 🙂

      Mkasih ya dah mampir.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s