Lelaki dan kata-kata

Di sosial media, seorang lelaki berdebat sengit dengan temannya. Temannya membalas tak kalah sengitnya. Lelaki itu memposting kata-kata yang terangkai menjadi kalimat provokatif. Banyak netizen yang tak setuju pendapatnya. Tak berapa lama, dindingnya dipenuhi komentar penuh kontra. Dibalasnya para komentator  yang menghujaninya dengan kata-kata dan link dari gudang informasi mbah google mau pun info-info yang viral di media sosial. Ia bela dengan semangat 45, bahwa tokohnyalah tokoh terbaik tanpa cacat cela.  Temannya tak mau kalah, segudang alasan, kalimat-kalimat, kumpulan quote, dalil-dalil, jargon-jargon maupun gambar-gambar meme dari yang lucu sampai satire dijadikan amunisi dalam perdebatan tak kenal lelah. Inilah manusia yang dikirim Tuhan untuk menyelamatkan bumi dan memakmurkan negerinya, begitu inti pesan yang ingin disampaikannya. Tak ada yang merasa kalah, semua merasa  harus menang. Tak ada pengakuan salah, semua mengaku paling benar dan lebih benar. Dan lelaki itu tak pernah kehabisan kata-kata untuk membenarkan kata-katanya.

Di kali lain, ia berdebat tentang agama. Perang kata-kata menjadi kesibukan masa kini. Semua mendadak paling memahami agama, mendadak jago bicara politik. Semua menyukai perang tanpa mulut berbusa-busa, semua menikmati perang kata-kata. Pedang argumen kembali berjibaku dan mengeluarkan suara dentingan keras bertubi-tubi. Mata pedangnya menusuk tajam, mengalahkan tajamnya pedang para pendekar kungfu di film-film klasik. Yang membosankan adalah perang itu belum juga usai. Belum ada yang mati, dan belum ada pemenangnya, tapi yang jelas semuanya terluka. Adakah perang yang tak meninggalkan luka?

Belum ada kata-kata untuk memahami apa yang diperebutkan sebenarnya? Kebenarankah? Rasanya absurd mengharapkan semua itu melalui proses pertengkaran yang lebih menonjolkan ego. Begitu masif dan suburnya perang kata-kata di sosial media, semua membuat dunia semakin rumit.  Aku tak berminat bergabung dalam perang mereka, meskipun atas nama kemuliaan. Aku tak tertarik membela salah satunya.

Sampai detik ini, aku lebih berbahagia di rumahku yang sunyi, menjadi lelaki pecinta kata meski tak pandai bersilat kata. Tak ada perang yang menyakiti, meski juga tak ada sorga yang dijanjikan. Sorgaku hanyalah sederhana, senyum istri, senyum anak-anak dan secangkir kopi.

Jakarta, 26 Juli 2017

 

Advertisements

8 responses to “Lelaki dan kata-kata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s