Game Baru Si Bungsu

docpri

Pagi itu selepas Subuh, aku mendapati si bungsu sudah bangun dari tidurnya. Ia duduk di sofa sambil memainan lego yang biasa ia bentuk robot, mobil, atau rumah-rumahan. Tapi gestur tangannya kali ini nampak malas. Ia hanya memegang-megang saja, tak hendak merancang lego menjadi sesuatu. Mimiknya tak secerewet dan seriang biasanya. Aku tahu ia menginginkan sesuatu yang tak didapatnya pagi ini.

Sengaja aku sembunyikan gadget yang setiap pagi disanderanya. Ia paling gemar melihat-lihat game baru dari play store. Kalau sudah bosan, game lama dihapusnya lalu ia dowbload game baru dan menginstallnya. Lalu memainkannya sebelum mandi atau berangkat ke sekolah TK. Selalu begitu  caranya melewatkan pagi hari  dalam sebulan terakhir.

Sebagai ayah tentu aku khawatir, kebiasaan barunya ini akan membuatnya kecanduan. Ia menjadi malas mandi kalau mamanya belum memaksanya membuka baju lalu mengangkatnya ke kamar mandi. Kadang ia menangis dan berteriak keras kalau kesempatan memainkan game di smartphone ayahnya terlewat, paling sering saat aku berangkat kerja lebih awal saat ia masih tidur pulas.

Dan pagi ini aku heran, ia tidak menanyakan HP seperti pagi pagi sebelumnya. Hanya terdiam, tanpa senyum dan suara. Kemarin sore ia kembalikan HP ayahnya, tapi dengan pertanyaan, “Ayah.. ini kenapa HP ayah error.?” Lalu ia berbalik dan mencari mainan yang lain seolah merasa lega terlepas dari masalah. Dari raut wajahnya aku melihat ada rasa bersalah dan takut saat ia menyerahkan HP itu.

Aku cek memang touchscreennya tak bisa digerakkan. Ia menyangka HPnya rusak. Setelah kurestart ternyata kembali normal lagi. Tapi kubilang pada si bungsu, “Nah.. rusak kan HP ayah. Mulai sekarang Faiz udahan ya mainan HPnya.” Dalam hati aku senang, karena kebetulan sekali ada alasan untuk tidak mengizinkan memainkan HP lagi, pikirku.

Aku mencoba membujuknya untuk tidak bersedih. Kali ini aku mencoba tak memberikan HP padanya. Kukenakan celana training sambil kugerak-gerakkan kaki seperti berlari. Berharap ia mengikuti ajakanku, “Faiz, kita jalan-jalan yuk ke taman. Nanti kita beli sarapan atau kue yang enak.”

Bungsuku mengangguk. Mungkin ia senang ayahnya tidak marah meski ia kecewa. Kuminta ia mengenakan sepatu kets, lalu topi agar tak terkena rintik hujan yang masih satu dua butir jatuh dari sisa hujan semalam.

**

Kami berdua berlajan, menelusuri jalanan yang setiap kelokannya menghubungkan satu blok ke blok lain sepanjang jalan di perumahan. Akhirnya 5 kelokan terlampaui. Aku menyesuaikan langkah-langkah kecil si bungsu. Ia tampak bersemangat menemani ayahnya, jalan kaki sepanjang 2 km bolak-balik. Sambil sesekali ia menanyakan hal-hal yang lucu, khas pertanyaan anak-anak.

Kadang ia mengeluh capek saat melewati jalanan sedikit menanjak. Kalau sudah begitu aku membungkuk saja di depannya. Dalam posisi hampir duduk, ia pun langsung paham dan cepat mendekapkan tangannya di bahuku hingga hampir mencekik leher. Ia pun beristirahat di gendongan ayahnya. Rasanya aku ingin menggendongnya ke mana-mana seperti mbah Surip. Dan saat ia sudah agak nyaman dan hilang rasa capeknya, ia minta diturunkan lagi dan kembali berjalan kaki.

Rasanya bahagia sekali, bungsuku tak terpenjara oleh gadget pagi ini. Setidaknya pagi ini. Suatu hal yang sering membuatku khawatir. Khawatir ia kehilangan masa kanak karena dicengkeram teknologi yang di sisi lain berpotensi menimbulkan dampak kurang baik  untuk perkembangan jiwanya.

Akhirnya bungsuku menyelesaikan jalan kakinya hingga kembali ke rumah. Ia nampak riang memasuki rumah sambil menenteng 2 buah kue donat kesukaannya. Donat toping gula putih dan satunya taburan coklat mesis. Ia berhasil membuat ayahnya bahagia hari ini dengan mainan barunya.

Depok, 24 Juli 2017

Advertisements

4 responses to “Game Baru Si Bungsu

  1. Wah gawat juga pak situasinya klo si kecil udah kecanduan gadget. Tapi juga pasti ada rasa kasihan juga. Mungkin bisa dibicarakan, misalnya membuat perjanjian dengan anak kapan harus bermain hp dan berapa lama dengan catatan ia melakukan apa. Misalnya di malam hari harus belajar selama 30 menit dan tidak boleh nakal jika sudah waktunya mandi. Seperti itu opini saya. Cuma itu sih pemikiran saja karena saya belum menikah atau punya anak he he he……

    Liked by 1 person

  2. Iya mas, tadinya sih sekali waktu saya kasih main. Tapi akhirnya setiap pagi harus main HP. Lama-lama keranjingan, kadang jam 3 sudah bangun dan langsung cari HP. Dia betah bermain hingga berjam-jam dan sering sekolahnya terlambat. Itu yang membuat saya prihatin.
    Makanya sekarang saya off kan dulu, mungkin nanti sekali waktu saja dikasih main. Dan sekarang sudah mulai gak terlalu nanyain HP nya. 🙂

    terima kasih hadir dan komennya, mas Shiq4.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s