Rumah Kucing Di Bulan

ilustrasi: santoandre.biz

Setiap pertengahan bulan Jawa atau bulan Hijriah, purnama merekah di langit desaku. Aku selalu asyik berlama-lama menatapnya. Menatap bidadari yang nampak seperti seorang ibu, duduk bersantai dan menggendong seekor kucing.

Kukira di sanalah surga berada, tempat di mana bidadari hidup damai bersama hewan-hewan yang dipelihara layaknya manusia. Begitu pikiran masa kecilku setiap kali memandang rembulan, bidadari dan seekor kucing di gendongannya. Pikiran kecilku belum sampai untuk memikirkan bahwa itu hanya cerita. Yang aku tahu bahwa simbok cukup senang jika cucunya senang mendengar ceritanya meskipun tak berpijak pada kenyataan yang seringkali dituntut oleh orang dewasa.

Aku dibesarkan di desa oleh simbok, sebutan untuk nenek yang mengasuhku sejak usia 1 tahun. Ibuku pergi merantau di ibu kota, dan aku diasuh oleh nenek yang telah kuanggap seperti ibu dari kecil. Karena itu aku memanggilnya simbok, sebutan yang biasa untuk memanggil ibu kandung.

Dari simbok lah aku mendapati cerita tentang bidadari yang sedang menggendong kucing di saat bulan purnama tiba.

“Lihat itu, le. Mododarinya sedang duduk dan menggendong kucing. ” cerita simbok di suatu malam kala bulan menampakkan mukanya yang paling bulat dan terang di antara hari-hari yang lain.

“Iya mbok, seperti simbok nggendong aku ya. Kapan kita main ke sana, mbok? ” tanyaku polos.

“Kalau sudah besar, kamu boleh pergi ke sana. Makanya nanti sekolah yang pintar biar bisa pergi ke bulan. ”

Dan ketika aku besar…

Kuceritakan tentang bidadari yang menggendong kucing pada seorang teman.

“Astaghfirllah… Kamu sudah syirik. Agama kita tidak mengajarkan hal itu. Kita gak boleh percaya itu.” kata temanku.

“Ini kan hanya cerita masa kecil, bro. Bukan fakta yang harus dipercaya. Seperti dongeng pengantar tidur saja, kenapa harus ditanggapi serius?”

“Meskipun itu hanya cerita, tapi itu berbahaya buat aqidah. Aku hanya mengingatkan, terserah kalau kamu tidak mempedulikannya.”

Hadeeh, kenapa jadi begini ya. Aku juga tak benar-benar percaya bahwa bidadari itu hidup bersama seekor kucing di bulan. Ini bukan tentang percaya atau tidak percaya. Tak bolehkah aku berimajinasi tentang kehidupan yang damai.Tentang cinta seorang ibu, kasih sayang pada makhluk ciptan Tuhan? Tak bisakah kita membiarkan orang lain mensyukuri anugerah Tuhan berupa kebebasan dan kemerdekaan berfikir, bermimpi atau pun mengenang masa kecil dengan caranya sendiri?

Kurasa hanya simbok yang mau mendengar dan senang melihatku menatap rembulan tengah bulan. Dan aku ingin selalu menjadi kucing di pangkuan simbok. Aku ingin pulang ke desa lagi, rembulanku yang hilang dan ingin kurengkuh kembali.

*

Jakarta, 15 Juli 2017

 

 

Advertisements

2 responses to “Rumah Kucing Di Bulan

  1. Aku mengerti kok mas…
    Kadang banyak orang yang berlebihan menyikapi hal seperti itu, perihal dongeng, mitos dan sebagainya.
    Kita kan anak, justru lebih di anjurkan untuk menyenangkan hati orang tua kita kan…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s