Pria Arab

Dia pria Arab. Tak pernah terpikir olehku berjodoh dengannya, latar belakang etnis yang belum pernah ada dalam sejarah pernikahan keluargaku. Aku lah yang pertama kali menikah dengan pria beretnis asing, meskipun keluarganya sudah lama tinggal di negeri ini.

“Nanti bagaimana nduk, ibu takut. Keluarganya akan memandang sebelah mata pada keluarga kita. Mbok ya cari suami orang kita saja, yang adat kebiasaanya gak jauh berbeda sama kita. Yang ngerti keluarga.” begitu sering ibu mengungkapkan kekhawatirannya padaku. Tapi aku tak sekhawatir Ibu, meski aku memaklumi perasaannya.

“Ibu, kalau sudah jodoh kita tak bisa mengelaknya. Kiki melihatnya dia adalah pria yang serius. Kiki hanya membutuhkan keseriusan orang yang mau dan berani menikah.” Begitu alasanku. “Bukankah ibu ingin sekali melihat Kiki cepat menikah?”

“Betul, nduk. Tapi mbok ya.. kalau bisa.. ”

“Doain saja, Bu. Semoga semua akan baik-baik saja. ” Aku masih melihat kekhawatiran Ibu di matanya. Aku mengerti Ibu kecewa. Tapi aku merasa bahwa pilihanku kali ini adalah yang terbaik.

Dan..

Tiga bulan kemudian, ibu menangis pilu setelah mengetahui bahwa aku telah menikah siri dengan lelaki arabku. Aku merasa berdosa, mengapa ini harus kulakukan. Tidak memberitahu ibu, padahal dialah yang telah membesarkanku selama ini. Membiayaiku hingga selesai kuliah dan bekerja.

Kini aku menganggur mengikuti perintah suamiku. Dan kami dikarunia bayi keturunan Arab yang lucu dan ganteng. Aku belum begitu paham mengapa jalan hidupku seperti ini. Berjalan mengikuti kata hati, sementara ada Ibu yang merasa ditinggalkan. Tapi kata ustad seorang istri wajib patuh dan taat dengan suami.

Ya, begitulah waktu berjalan teramat cepat. Aku telah menikah dengan lelaki Arabku melalui perkawinan siri. Bagi kami, yang terpenting adalah sahnya pernikahan. Tapi bagi keluargaku, pernikahan tetap harus diresmikan sesuai aturan negara. Dan harus diadakan acara resepsi untuk mengumumkan kepada sanak saudara dan teman-teman. Itu wajib, tidak boleh tidak kata Ibuku.

Aku pasrah, tak bisa menentang ibu. Aku merasa sudah membohonginya selama ini. Hidupku mengalir begitu saja seolah tanpa rencana.

Kini aku tinggal di kota Malang, mengikuti lelaki Arabku. Meninggalkan ibuku yang selama ini membesarkanku dengan susah payah, dan berharap ingin tetap bersama anak perempuan satu-satunya. Aku seperti tak berdaya. Aku telah menjauh dari Ibu, entah sampai kapan.

Aku bimbang di antara peran sebagai istri dan sebagai anak harapan Ibu. Mungkin waktu yang akan menjawabnya. Dan aku masih berharap bahwa pilihanku ini tidak salah.

Jakarta, 14 Juli 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s