Di Suatu Malam Yang Galau

ilustrasi: jpnn.com

ilustrasi: jpnn.com

di suatu malam yang galau, aku bermimpi
melihat matahari, bulan, bintang dan langit berbicara

“Aku tak kuat lagi menahan beban semesta ini” kata matahari dengan wajah lesu
“Mengapa begitu, wahai Matahari? Bukankah tugasmu belum usai? Masih banyak manusia membutuhkan hangatmu.”  bulan mengingatkan sahabatnya.

“Ah, mereka sudah tak peduli padaku. Kemewahan, kenikmatan, kejayaan hanya itulah yang dipikirkannya. Mereka saling membunuh, berperang, memfitnah dan merusak alam serusak-rusaknya. Mereka lakukan apapun dan bahkan atas nama Tuhan . Dikemasnya kedustaan dengan gincu kemunafikan. Aku sudah muak. Ingin rasanya panasku meleleh segera, dan bumi musnah secepatnya hingga tak kulihat lagi angkara murka manusia.” jawab matahari dengan geramnya.

Bintang menghampiri matahari  lalu menimpali ucapannya.

“Wahai matahari, sahabat sejatiku yang tak pernah lelah menyinari kehidupan. Janganlah terbawa amarah. Jika Tuhan mau, tentu sudah diperintakannya kita untuk untuk menghancurkan bumi, jika hanya karena perbuatan makhluknya. Bukankah malaikat pun pernah menanyakan hal yang sama tentang manusia? “

Matahari terdiam namun kemarahannya masih memuncak.

“Pembunuhan dan kerusakan sudah terjadi sejak Adam diciptakan. “  langit yang sejak awal diam, menyambung pembicaraan.

“Kita bukan makhluk yang dicipta untuk mendendam dan membuat perang seperti mereka. Kita tak punya pilihan selain tunduk pada tugas-tugas semesta.

Jika mereka saling membenci, saling memaki dan berkelahi  usahlah kita terbawa pertengkaran mereka. Sebab hanya sebagian saja yang melakukannya. Di bumi aku masih merasakan cinta, kasih dan kedamaian yang diperjuangkan. Usah kau terlampau serius menyikapinya, Matahariku. Nanti derajatmu akan bertambah rendah di hadapanTuhan. Manusia itu anak emas Tuhan. Makhluk terbaik yang Iblis pun dipaksa sujud padanya.“

“Tapi semakin hari aku semakin tidak tahan.  Kerusakan ozon semakin parah akibat ulah manusia serakah, dan sinarku tak lagi seindah dulu lagi. Aku tak mampu bekerja sebaik dulu lagi. Maka buat apa lagi aku setia pada manusia? “

“Ya, aku ngerti segala keluh kesahmu. Tapi bersabarlah. Kita tak akan pernah tahu persis maksud Tuhan yang bersikeras menciptakannya. Hitam putih, gelap terang, panas dingin, cinta benci, dan semua  dicipta berpasangan. Jika salah satu saja yang ada, skenario kehidupan akan terasa hambar. Aku sendiri pun tak mengerti, mengapa Tuhan menjadikanku sebagai langit?  Dan mengapa tak ada pilihan buat kita seperti diberikannya pada manusia. Tapi sebenarnya itu bukan pertanyaan,  karena ku yakin jawabannya sudah dikantongi sang kreator Agung. Kapasitas otakku tak diciptakan untuk itu.”

usai panjang lebar langit bicara, matahari pun mereda amarahnya

lalu tiba-tiba mimpiku sirna saat pagi membangunkan pulas tidurku
dari jendela kamar kulihat matahari masih setia dengan senyum kehangatannya
tak beda dengan hari-hari kemarin
langit tetap biru
bintang pun kembali ke peraduannya hingga redup
mengikuti bulan yang lebih dahulu tenggelam
karena itulah satu-satunya  tugas mereka
menjalani putaran waktu sejak jutaan tahun lalu
dan aku masih bisa tersenyum
padahal bila mau aku masih bisa memilih untuk bersedih
atau marah
atau mengeluh mengeluh sehari semalam
karena ada ribuan alasan yang bisa dicari untuk semua itu
tapi aku lebih menikmati  mataku yang masih bisa berkedip
lalu  menghabisakan sarapan pagi buatan istri
dan menyingsingkan baju menjalani kehidupan sehari-hari
sebagaimana Tuhan jadikan aku
apa adanya

 

#1609poets
#puisijagadraya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s