Lelaki Yang Tak Bisa Menulis Puisi

ilustrasi: kandhani.net

ilustrasi: kandhani.net

Besuk adalah hari istimewa. Hari di mana usia perkawinan Dee bersama Susanto Widjaja menginjak angka 25 tahun. Di usia perak ini Dee memimpikan sebuah hadiah spesial dari sang suami. Bukan hadiah yang mahal, cukup sebuah puisi sebagai ungkapan perasaan suami kepada istri tercinta.

Selama menjalani perkawinan Dee tak pernah merasakan suasana romantis seperti dalam kisah-kisah roman yang sering dibacanya atau cerita-cerita pendek yang sering ditulisnya. Kadang ia bermimpi di suatu hari Susanto membisikkan kata-kata indah di telinganya. Atau di kali lain ia membayangkan suaminya menulis sebuah puisi lalu dibacakan di hari ulang tahunnya. Suasana seperti itu belum pernah terjadi. Dan kali ini Dee ingin impiannya menjadi nyata. Berharap bisa menjadi kado terindah di seperempat abad perkawinannya.

Tapi harapan tinggal harapan. Susanto tak bisa memenuhi permintaan Dee. Ia tak pernah menulis puisi. Ia memang seorang direktur yang brilian dan sukses. Juga seorang pekerja keras dan dikenal sebagai figur yang memiliki integritas. Tapi ironisnya dalam hal puisi, ia seperti orang paling bodoh di dunia ini. Ia tak menyukai puisi, juga dunia fiksi lainnya. Mungkin hanya sekali seumur hidupnya ia membuat puisi, yaitu saat guru di SMP nya memberi tugas mengarang dalam pelajaran sastra.

Ia sosok lelaki yang polos, tidak banyak bicara tapi tegas sekaligus pragmatis. Kehidupannya jauh dari dunia menulis. Berbeda 180 derajat dengan Dee. Dee seorang penulis fiksi dan sangat menyukai puisi. Ia telah menulis beberapa kumpulan puisi, cerpen dan beberapa novel. Buku-buku karyanya mudah ditemukan di rak-rak toko buku ternama. Namanya pun sudah banyak dikenal di dunia literasi. Namun perbedaan besar di antar mereka berdua bukanlah halangan untuk hidup bersama membina mahligai rumah tangga. Terbukti sampai hari ini rumah tangga mereka masih baik-baik saja. Memang, mereka berdua bertemu karena dijodohkan.

“Maafkan aku, ma. Meskipun mama memaksa, papa tetap tak bisa.”

“Papa, kali ini saja!. Please..lakukanlah untuk mama. Ini akan menjadi sebuah peristiwa tak terlupakan dalam sejarah perkawinan kita. Kalau papa tetap menolak mama akan sangat kecewa… hiks”

“Apa tidak ada permintaan yang lain? Bukankah di awal pernikahan mama berjanji akan saling menerima apa adanya? Satu sisi yang papa sudah pasti mengecewakan mama, papa tak paham tentang puisi. ”

“Papa.. mama yakin papa bisa. Masalahnya mau apa tidak? Pengetahuan dasar menulis hanya mengenal huruf, kata dan membuat kalimat. Itu saja, pa. Mama yakin papa pasti bisa. Apakah berlebihan permintaan mama yang sederhana ini?”

“Aduh, ma. Jangan paksa papa. Sudahlah, papa pusing.” Susanto melangkah keluar, tapi tangan Dee lebih dulu menahan suaminya yang bergegas mengakhiri pemcicaraan siang itu.

“Ah, papa mau ke mana?. Tunggu pa, ini belum selesai. Papa jangan kabur ninggalin mama begitu saja. Kali ini terpaksa mama meminta papa dengan paksa. Kalau papa tidak mau memenuhi permintaan mama, mama akan pergi dari rumah ini. Barangkali cinta papa sudah tidak seperti dulu lagi.” Kali ini Dee mulai mengancam suaminya.

“Sekarang, mama kasih buku kosong. Ini pulpennya. Besuk buku ini harus sudah tertulis sebuah puisi. Titik.” Dee menyodorkan sebuah buku dan Susanto menerimanya dengan tanpa ekspresi. Seolah buku itu telah menyandera dirinya.

**

Esoknya, Dee memeriksa buku yang kemarin diberikan pada suaminya. Dibukanya sampulnya, berikut halaman demi halaman. Halaman pertama kosong, kedua kosong, ke tiga.. kosong juga. Masih ada harapan untuk lembaran-lembaran berikutnya. Namun, sampai halaman terakhir dibuka, tak satupun huruf tertulis di sana.

“Papa…. !!, Kau sungguh tega, permintaan istrimu tak kauanggap penting sama sekali. Dugaanku benar, papa sudah tak cinta lagi. “ Dee tak kuasa menahan amarah. Perlahan air mata mengalir di pipinya.

Susanto tak banyak berkata-kata, ia hanya menjawab dengan satu kalimat pendek, “Maafkan papa, ma.”

**

Rejeki, jodoh, musibah kadang hadir tanpa disangka-sangka. Begitu pun dengan musibah yang menimpa Dee. Siapa yang menyangka Dee yang periang dan energik itu tiba-tiba terpuruk di rumah sakit. Ia menderita kelumpuhan karena penyakit tulang yang sebenarnya sudah lama diderita. Baru pada usianya yang menjelang kepala 5 penyakit itu secara drastis memberhentikan aktifitasnya sehari-hari.

Tiga tahun sudah Dee terbaring tak berdaya. Hanya suami dan kursi roda yang masih setia menemani hari-hari penderitaannya, juga membantunya menjalani aktifitas dari satu kamar-ke kamar lain di rumahnya yang cukup besar. Dan yang lebih membuatnya tetap memiliki semangat hidup adalah suaminya yang senantiasa menyemangati dan mengurus sakitnya tanpa keluh kesah sedikitpun.

Dari mulai memandikan, membersihkan kotorannya, menyiapkan makanan dan semua kebutuhan Dee, dengan tanpa rasa berat sedikitpun Susanto melakukan itu semuanya. Tanpa pembantu. Bahkan dua anaknya yang sudah kuliah tetap tidak diperbolehkan untuk mengurus mamanya kecuali hanya membantu seperlunya. Susanto tidak ingin anak-anaknya terganggu belajarnya karena ikut mengurus mamanya.

Namun, di lubuk hati yang dalam semakin lama Dee merasa iba pada suaminya. Selama terbaring sakit tentu suaminya banyak menderita lahir batin. Dee jelas tak bisa memberi nafkah batin seperti sebelumnya. Hingga suatu ketika Dee berkata lirih pada Susanto.

“Papa, maafkan mama sering merepotkan papa dari semenjak mama masih sehat sampai menderita sakit selama ini. “

“Sudahlah, ma. Mama jangan bersedih dan jangan berpikir seperti itu. Yang paling penting saat ini adalah kesehatan mama. “

“Pa.., mama kasihan melihat papa terlalu sibuk mengurusi mama. Papa tentu juga harus memikirkan yang lain, perusahaan, anak-anak dan kebutuhan papa sendiri. Pa..mama ikhlas jika papa ingin menikah lagi. Mama sadar tak bisa menjadi istri yang sempurna untuk kehidupan papa saat ini. “ Dee mencoba memberanikan diri menyampaikan uneg-uneg yang sudah beberapa bulan dipendamnya.

“Ah, mama jangan berpikir yang tidak-tidak. Papa tak mungkin meninggalkan mama dalam kondisi seperti ini. Ini adalah tanggung jawab papa sebagai seorang suami. Biarkan papa mengurus mama sampai sembuh. Papa akan tetap berada di samping mama. Kita akan tetap bersama dan bahagia bersama, ma. Tak ada yang boleh merebut kebahagiaan kita dengan cara apapun.“

Dee nyaris tak percaya mendengar jawaban suaminya. Ia terbatuk dan tak sengaja tangannya bergerak menyenggol tumpukan buku yang terjatuh di lantai. Buku yang pernah diharapkan ada puisi yang ditulis suaminya.

Dipungutnya buku itu dengan dibantu suaminya. Di bukanya buku itu. Dee terpana, ada terselip sebuah foto indah saat awal-awal pernikahan dahulu yang warnanya sudah mulai memudar. Foto saat-saat di puncak kebahagiaan bersama suaminya. Ditatapnya lekat-lekat wajah suaminya yang polos.

Dee tersenyum, ia sudah menemukan puisi itu. Puisi terindah dari seluruh puisi di dunia ini.

** end **

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s