[Bulan Kemerdekaan RTC] Sartini dan Jugun Lanfu

ilustrasi: aktudahulu.blogspot.com

ilustrasi: aktudahulu.blogspot.com

Ini kisah di tahun 2045. Sebut saja namanya Sartini. Panggilannya Tini, tapi sebagian kecil orang terbiasa melecehkannya dengan panggilan si Jepun. Panggilan yang tentu tak disukainya. Tapi ia cukup sabar dan akhirnya menjadi tebal telinga untuk kesekian lamanya.

Tini tumbuh sebagai perempuan dewasa dengan fisik sedikit berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya di negeri ini. Kulitnya putih ada sedikit warna kuning langsat khas wanita Indonesia. Matanya sipit, pertengahan antara sipit Cina dan Korea. Lebih tepatnya sipit seperti mata orang Jepang. Tidak heran panggilan Jepun disematkan pada dirinya.

Bukan tanpa alasan mengapa Tini sangat mirip orang Jepang. Berawal dari buyutnya ( ibu dari neneknya ) yang bernama Sariyem. Sartini adalah keturunan ke 3  atau biasa disebut cicit dari seorang Sariyem, wanita yang menjadi salah satu korban kebrutalan penjajah Jepang kala menguasai negeri ini 103 tahun yang lalu. Tahun 1942, Sariyem yang saat itu masih berumur 13 tahun dipaksa menjadi pemuas birahi tentara Jepang. Ia tinggal di lanjo ( semacam rumah khusus ) tempat berkumpulnya gadis-gadis belia yang dijadikan budak seks para tentara Jepang. Dalam satu hari ia harus berapapun lelaki yang mau menikmati tubuhnya, bahkan 10 hingga 15 lelaki setiap hari. Jika menolak, siksaan yang sangat menyakitkan harus rela diterima sebagai akibatnya. Tendangan, pukulan hingga dibiarkan kelaparan sering dialami sebagai hukuman bagi mereka para budak seks yang berani melawan atau menolak perintah. Para tentara menyebut mereka jugun lanfu, yang artinya wanita penghibur. Padahal mereka tidak benar-benar menghibur, melainkan diperkosa dan dijadikan budak seks yang diperlakukan secara brutal dan terencana. Sebuah kejahatan perang yang sampai detik ini si penjahat tetap tak terjamah dan tak pernah ada pengakuan bersalah dari negara yang melegalkan jugun lanfu. Bahkan dunia international pun tak mampu berbuat banyak.

Tidak seperti buyutnya, Sartini hidup di masa yang jauh berbeda. Sartini tumbuh menjadi wanita dewasa setelah 100 tahun negeri ini merdeka. Di usianya yang ke 30 semangatnya tetap menyala. Seperti Kartini, ia terpanggil untuk menuntut kemerdekaan kaum wanita yang masih dianggap warga kelas dua. Ia merasa statusnya sebagai seorang keturunan jugun lanfu masih dipandang sebagai warga yang termarginalkan. Di media sosial ia aktif mengkoordinir anak-anak keturunan jugun lanfu. Misi persamaan hak dan tuntutan permintaan maaf terhadap ratusan ribu jugun lanfu di negeri ini, senantiasa dikumandangkan di setiap kesempatan. Berbagai petisi, surat-menyurat, tulisan  bahkan demonstrasi pun dilakukan oleh grup yang dikelolanya.

**

Di suatu malam, datanglah tamu seorang expatriat dari Jepang. Didampingi seorang WNI yang membantunya sebagai penterjemah. Si pendamping bernama Alung De Moore, memperkenalkan si orang Jepang.

“Mbak Tini, perkenalkan ini Akkiro Katau utusan sebuah LS M dari Jepang ingin bertemu.” Sapa Alung, sambil telapak tangannya menunjuk Akkiro Katau. Akkiro mengiyakan dan membungkuk dengan maksud memberi hormat layaknya budaya Jepang.

Si orang Jepang mulai mengutarakan maksud dan tujuannya menemui Sartini. Alung kembali menerjemahkan untuk Sartini.

“Jadi, kedatangan saya ke mari adalah untuk memastikan tak ada lagi keresahan dan tuntutan berlebihan terhadap masa lalu. Untuk itu, kiranya ibu Sartini bisa menerima apa yang saya bawa ini sebagai ganti dari tuntutan yang tidak bisa kami penuhi.” ungkap Akkiro sambil menyodorkan sebuah koper berisi uang rupiah.

Usai Alung menerjemahkan, Sartini bangkit berdiri.

“Apa? Apa yang anda bawa sama sekali tidak ada artinya buat kami. Bahkan anda telah menghina kami. Kami sebagai keturunan jugun lanfu tak akan mungkin menikmati uang di atas penderitaan nenek-nenek kami yang telah diperlakukan oleh tentara Jepang di luar batas kemanusiaan.”

“Yang kami mau adalah permintaan maaf dari pemerintah anda. Jika tidak, silahkan angkat kaki dan bawa koper ini. Anda tak akan bisa menghentikan kami dengan uang. ” Sartini dengan tegas mengusir Akkiro.

“Tunggu, anda yakin dengan apa yang baru saja anda lakukan? Kami sangat berharap anda tak menolak mentah-mentah seperti ini. Aku masih bisa memberimu waktu untuk berfikir. Dan perlu anda ingat, kami tidak mungkin pulang tanpa membawa kabar baik. ”

“Hei, dengar ya. Kami sudah memikirkan ini bertahun-tahun. Kami ingin memperjuangkan hidup seperti anak-anak yang dilahirkan secara normal lainnya. Bukan dipandang lahir dengan paksa seolah-olah tanpa dikehendaki. Selama pemerintah anda tak mengucapkan kata maaf, jangan harap kami bisa melupakan semua dosa masa lalu orang tua kalian. Jadi pergilah sekarang juga, dan jangan pernah datang lagi.”

“Oh, oke-oke !” Dengan kesal Akkiro pun pergi bersama Alung setelah pintu rumah Sartini ditutup dengan bantingan cukup keras. Sartini tak kuat dilecehkan oleh keturunan serdadu Jepang itu.

ilustrasi:uniqpost.com

ilustrasi:uniqpost.com

**

Di sudut kamarnya Sartini menghela nafas yang dihirupnya cukup dalam. Sudah 10 tahun ia memperjuangkan keadilan bagi para jugun lanfu. Belum ada titik terang, tapi ia tetap sabar sampai idealismenya terwujud. Tiada gentar apapun kata orang.

Dari balik jendela kamar ia memandang keluar. Kaca jendelanya yang mulai buram tak menghalanginya menatap anak-anak yang sedang berlomba panjat pinang di ulang tahun kemerdekaan yang ke 71. Bendera merah putih berkibar-kibar di ujung pohon pinang yang ditancapkan di sebuah area kosong di belakang rumahnya yang menjadi langganan permainan perlombaan setiap 17 Agustus. Namun, Sartini merasa belum bisa membahagiakan arwah buyutnya dan buyut-buyut lainnya yang telah mengalami penderitaan juga trauma yang cukup dalam sebagai jugun lanfu. Dari balik jendela kamarnya yang buram itu, ia merasakan kemerdekaan masih setengah hati.  Kemerdekaan masih menyisakan kepedihan hati sebagian anak bangsa yang luput dari perhatian pemerintah maupun pelaku kejahatan perang.

Ia berjanji dalam hatinya, tak akan berhenti sampai keadilan bisa didapatkan demi harkat dan martabat para wanita hingga anak cucu tak mengalami nasib yang sama di kemudian hari.

Namun, keesokan harinya banyak surat kabar menjadikan Sartini sebagai headline. Ia dipaksa mengakhiri perjuangan mulianya dengan puluhan luka tusuk di sekujur tubuh. Sartini menjadi martir untuk sebuah kemerdekaan yang masih harus diperjuangkan, entah berapa ratus tahun lagi.

 

Jakarta, 18 Agustus 2016

Karya ini diikutsertakan dalam rangka mengikuti Event Bulan Kemerdekaan RTC

ilustrasi : download-10-rumpies-57b379ecb47e61cf41b

ilustrasi : download-10-rumpies-57b379ecb47e61cf41b

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s