PAK PRESIDEN DAN DOA PAK KIAI

Setelah dilantik menjadi Presiden di negeri Ontolohot, Presiden Sukarto meminta doa pada pak Kiai Fahmi Idris

“Pak Kiai, mohon doakan agar seluruh rakyatku hidup makmur dan kaya raya, pintar-pintar dan baik-baik semuanya.”

“Baik pak Presiden.”

Konon Kiai Fahmi Idris adalah kiai kharismatik dan doanya sangat manjur. Maka tak berapa lama setelah didoakan, negeri Ontolohot berubah dengan sangat fantastis. Seluruh penduduknya kaya raya bak konglomerat, pintar-pintar seperti Habibie dan baik tutur kata dan perilakunya. Tak ada lagi orang miskin, tak ada lagi orang bodoh, dan tak pernah lagi ada kejahatan. Negeri Ontolohot menjadi negeri aman damai gemah ripah loh jinawi toto tentrem dan raharja. Mantap abis deh pokoknya. Semuanya berubah 180 derajat menjadi lebih baik dan perfect.

Namun meski semua penduduk sudah mencapai apa yang diinginkan selama ini, pak Presiden masih saja diserbu masyarakat. Mereka berbondong-bondong ke istana. Banyak yang mengeluh dan banyak juga yang protes tentang berbagai hal.

Misalnya mak Eka Murti yang kekayaannya sudah gak terhitung. Begini mak Eka mengadu.

“Pak Presiden. Saya stress berat Pak, pembantu saya sudah kaya raya sekarang. Sopir dan ojek langganan saya juga demikian. Semuanya sudah kaya raya, gak ada lagi yang mau jadi pembantu, sopir dan tukang ojek. Bayangkan sudah seminggu saya menggantikan pekerjaan mereka, badan saya dah mau ambruk rasanya. Saya dan gak kuat dengan semua ini pak. Bagaimana keadaan negara kita ini sebenarnya, Pak?”

Profesor Pairunn Adi juga gak mau ketinggalan mengadu.

“Pak Presiden yang terhormat. Semua orang sudah pintar. Tak ada lagi yang memerlukan sekolah. Tak ada lagi tempat saya menyebarkan ilmu yang sudah kuperoleh. Tak ada lagi orang bodoh dan butuh ilmu. Lalu untuk apa saya hidup kalau ilmu saya gak bisa dimanfaatkan orang lain pak? Hidup macam apa ini. Apa negara ini sudah mau kiamat?”

Tak ketinggalan Kepala Lapas Susanto Widjaja.

“Sebagai seorang Kepala Lapas saya protes, Pak. Sudah seminggu ini penjara kosong melompong. Saya tidak ada pekerjaan lagi di sana selain duduk-duduk nonton tv atau baca koran, komen2 di grup fc atau ngerumpi sama temen-temen buat menghabiskan waktu. Tak ada lagi orang jahat sekarang ini. Lalu untuk apa jabatan saya dipertahankan, Pak? Saya tidak mau makan gaji buta. Saya jadi kegemukan kesibukan saya hanya makan dan duduk-duduk saja di sana. Apa perlu orang dihimbau untuk menjadi maling atau koruptor lagi biar saya ada kesibukan, Pak? Atau penjara ditutup saja dari pada kosong dihuni hantu. Mohon solusi dari Bapak Presiden.”

Lain lagi seorang penulis Novel Rudie Chakil yang popularitasnya sudah mengimbangi JK Rolling.

“Pak Presiden. Saya heran novel saya saat ini tak lagi dibeli orang. Taraf hidup mereka sudah maksimal. Mereka tak lagi memiliki kesedihan, kegalauan. Hidup adanya kesenangan semata. Tak ada konflik, tak ada tragedi dan tak ada kesenjangan sosial. Mereka tak lagi memerlukan novel. Dan saya tak mungkin menulis cerita tanpa ada konflik atau plot dan alurnya lurua-lurus saja. Menulis sudah tidak menarik lagi, Pak. Ide menulis sudah kering semenjak dunia berubah. Sebenarnya kita sedang berada di alam mana ini Pak Presiden? Aku ingin dunia seperti dulu lagu meskipun setiap orang nasibnya berbeda-beda.”

Pak Presiden berpikir keras. Ia merasa sudah berhasil membawa rakyat menuju cita-cita luhur. Namun tetap saja masalah baru muncul setelah masalah lama berhasil diatasi.

“Wahai rakyatku, jika demikian aku minta pak Kiai mendoakan lagi agar kehidupan kita kembali seperti sebelumnya. Tapi jangan kerahkan banyak orang lagi u tuk menyerbu istana ini ya? Hidup ini memang kurang asyik kalau hanya satu warna. Kita semua saling membutuhkan dan saling melengkapi.”

Semua akhirnya setuju. Lalu mereka meninggalkan istana. Pak Presiden pun segera masuk ke kamar tidur. Lepaslah kepenatan. Rasanya jabatan presidenpun ingin segera dilepaskannya pula.

Depok, 23 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s