SANG WALI

ilustrasi:kanal3.wordpress.com

ilustrasi:kanal3.wordpress.com

“Di hadapan Gusti Allah, semua manusia itu sama derajatnya. Tak perlu kita menunduk sujud di hadapan Sultan layaknya menyembah Tuhan.“ ujar Syeikh Siti Jenar suatu ketika di hadapan para santrinya. Syeikh tidak ingin ketauhidan para santri dikotori oleh budaya feodalisme yang merendahkan derajat manusia.

Dalam tradisi kerajaan Demak Bintoro kala itu, para kawula atau rakyat jelata memperlakukan sang penguasa sebagaimana mereka memperlakukan Tuhannya. Mereka menyembah, berjalan merangkak dan bersujud setiap kali menghadap Sultan Tenggono, anak keturunan Raden Patah. Syeikh Siti Jenar jengah dengan keadaan semacam itu. Maka di setiap kesempatan ia menyampaikan penolakannya dan ajakannya kepada para pengikutnya untuk bersikap selayaknya dan sewajarnya saja. Meski kepada raja sekalipun kesetaraan itu mesti diperjuangkan.

Alhasil, apa yang disampaikan oleh Syeikh Siti Jenar terdengar di telinga Sultan Trenggono. Marahlah Sultan. Siti Jenar dianggap telah membangkang dan berniat memberontak alias makar. Maka diperintahkannya pra prajurit Demak untuk menangkap dan menumpasnya. Namun, berkat kesigapan Sunan Gunung Jati diselamatkanlah Syeikh Siti Jenar dengan membawanya ke tempat persembunyian yang aman. Hingga akhirnya Syeikh Siti Jenar wafat dalam keadaan bersujud setelah sholat Tahajud di Pengimaman Masjid Agung, Citebon.

Jakarta, 19 Juli 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s